Percaya Dalam Keterbatasan

Ketika kekuatan menjadi pemeran utama.
Berdiam diri atau melangkah? 

Ketika mimpi menjadi bagian utama dalam hidup. 
Bertahan atau menyerah? 

Tidak ada cahaya, kecuali kamu mampu memberinya cahaya.
Bagaimana bisa? 

Berada di persimpangan itu menyulitkan, semua jalan terasa benar tapi tidak ada yang membenarkan. Semua dimulai dari senja yang kembali menyapa di ufuk barat, semua terlihat begitu sempurna. Tapi, apakah kamu tahu tolak ukur sesuatu bisa dianggap sempurna itu seperti apa? dan ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan, seringkali sebagian orang mengklaim bahwa hidupnya tidak sempurna. Lalu dititik mana kata tidak sempurna itu hadir?

Manusia diciptakan sama yang membedakan adalah garis perjuangannya, bagaimana dia berjuang untuk hidupnya atau bahkan hidup orang disekitarnya? bagaimana dia memikirkan sesuatu yang tidak difikirkan orang sekitarnya? bagaimana dia mengambil keputusan diatas keterbatasan yang dimiliki? dan bagaimana dia belajar melangkah diatas pecahan kaca.

Banyak orang lebih menyukai hidup dalam dunia mimpi, disana mereka bebas menjadi apapun yang diinginkan. Tapi bukankah itu jauh lebih menyakitkan? karena saat terbangun dari mimpi kamu harus menerima kenyataan yang jauh dari kata mimpi.

Melangkah dalam keterbatasan memang sangat sulit, seperti hal nya kamu merangkak. Tapi, satu langkah kaki itu yang akan menjadi ribuan langkah hingga kemudian membawamu ketujuan dalam mimpi dan bukan tidak mungkin kamu akan melewati jalan yang licin, terjal atau bahkan berbatu. Tapi itu nyata, mimpi itu terwujud meski dengan langkah yang tertatih dan mungkin sampai terluka.

Bahkan kamupun menyadari, untuk merasakan dinginnya salju atau bahkan panasnya mentari kamu butuh kesabaran dan keyakinan. Semua bukan hal yang mudah, karena ketika mudah lalu disepelekan semua akan mejadi sulit dan ketika sulit lalu dijalankan dengan baik semua akan menjadi mudah.

Tidak perlu menjadi orang lain saat ingin mewujudkan mimpi, tidak perlu iri. Bukankah sudah ditetapkanNya kita diciptakan sama? saat ini, kamu hanya dituntut untuk terus berjuang hingga suatu saat Tuhan akan mengizinkan kamu berdiri diatas tangga kemenangan.

Lalu, apakah menurutmu kita diciptakan dengan lintang garis perbedaan?

Comments

Popular posts from this blog

Sesak karenamu (lagi)

ketika hati tak mampu berucap

Bukan Menyerah tapi Mengalah