Dia
Sesuatu
yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Bertemu dengannya adalah kebahagiaan
untukku tetapi juga kesedihan untukku. Bersamamu aku mampu melupakannya, namun
bersamamu segala kesedihan juga tercipta. Mengenalmu aku mengerti cinta.
Mengerti arti sebuah pengorbanan, keikhlasan bahkan pengkhianatan.
Satu tetes airmataku dapat menggambarkan
segala makna yang terukir jelas untukmu, tetes airmata itu adalah ungkapan atas
perasaanku. Di sudut persimpangan aku berada, entah jalan mana yang harus ku
lalui. Kaki seperti enggan melangkah, padahal disana gelap, sunyi,tak ada
cahaya yang menerangi. Tersesat..... ya aku tersesat. Entah dimana aku berada,
tetapi satu yang aku tahu, disini, ditempat ini ribuan airmataku telah menetes
untukmu. “ayo melangkah! Cari cahaya itu, kenapa masih disini? Disini gelap!”
sangat jelas terngiang ditelingaku. Tapi apa yang harus aku lakukan? Berlari? Aku
tak mampu lagi berlari, aku lelah. Seperti angin berbisik “bahagiamu akan
datang! Jangan lemah!”.
Aku hanya terdiam, merenungi setiap kata
yang terngiang untukku, mencoba memenjamkan mata ini. “kamu cantik, apa kamu
mau terus berada dalam lingkaran menyakitkan? Lihat dia!! Dia tersenyum bahagia
dengan cahaya yang meneranginya tapi apa dengan kamu? Menunggunya dalam
kegalapan dalam tetesan airmata dan semua itu tanpa cahaya dan senyum! Buka
mata kamu, lihat segalanya. Dia yang akan menerangimu dengan cahayanya telah
menunggumu dipersimpangan jalan”. Terdiam, “tapi aku takut! Aku takut dia akan
mencariku nanti?”. “kamu masih pedulikan dia?” pandangan kosong nampak jelas
disana. “dia tidak akan mencarimu!”
“kenapa
kamu bisa berkata seperti itu? Jika nanti dia kembali kepadaku apa yang harus
aku lakukan?” sebuah pandangan tertuju kepadanya “dia akan kembali kepadamu
karena sebuah rasa penyesalan! Penyesalan telah mengabaikan ketulusan yang
dimiliki olehmu, percayalah padaku. Hentikan semua ini! Apa kamu tidak lelah?”
terdiam dalam bisu “akupun yakin, kamu akan merasa lelah, karena ada kalanya
sebuah rasa lelah menghampirimu disaat cinta yang tulus untukmu tak kunjung
menjabat erat tanganmu, lalu untuk apa masih engkau pertahankan? Sedangkan
cahaya yang menantimu justru engkau abaikan?”
Tersadar dari mimpiku malam tadi,
memikirkan apa yang telah terjadi denganku selama ini. Mencoba bangkit.... ya
aku harus bangkit! Kini kakiku melangkah ke sebuah jendela disudut kamarku,
disini aku dapat melihat dengan jelas setiap tetes airhujan yang jatuh ketanah
dan membuat embun disebuah kaca. “Tuhan..... inikah cinta? Datang membawa
bahagia dan senyuman tetapi pergi meninggalkan luka dan airmata” ujarku dalam
sepi.
Sebuah
pintu terbuka seseorang menyelinap masuk kekamarku “sayang, apa yang sedang
engkau rasa?”. Terkejut merasakan kedua tangan memegang pundakku, dengan
membalikan badan “ibu?” ujarku. Ibu hanya membalas dengan senyuman kecil yang
begitu nampak sangat manis dari bilik bibir merahnya. “entah bu, apa yang kini
sedang aku rasakan! Akupun tak tau semua yang terjadi kepadaku?” ujarku dalam
perasaan bingung. “pergilah nak....” perintah ibu. “pergi? Pergi kemana ibu?”
sahutku dengan pandangan terheran heran. “pergilah nak........ ikuti arah
langkah kakimu berpijak. Yakinkan hatimu jika engkau akan bahagia” membelai
rambutku. Aku sendiri bingung apa yang harus aku lakukan,melangkah? Aku ingin
sekali melangkah. Tetapi aku bingung harus kemana aku melangkah? Rasa sakit ini
semakin nyata menyayat hatiku “Tuhan, aku lelah L” bisik hatiku.
“Luna?” suara yang membuatku tersentak dalam bisu. “Ibu......” kataku manja.
“cepat siap-siap” katanya sambil berlalu dalam balik pintu.
Hal yang tak pernah aku inginkan
sebelumnya, aku ingin memeluk erat tubuhnya dari sisi ketulusannya. Tiba disatu
ruangan yang akhirnya menghantarkan aku ke tujuan terakhirku. “aku ingin
bertemu denganmu?” pintaku dalam sebuah pesan singkat yang tak pernah
dibalasnya walau sudah puluhan kali aku mengirimkannya. Aku hanya berfikir, apa
salah terbesarku padanya hingga ia sebenci itu padaku.

Comments
Post a Comment